b{font-weight:bold;} Pengalaman Lulus UTBK SBMPTN - IDN PEDIA
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengalaman Lulus UTBK SBMPTN

        Momen UTBK bisa dibilang adalah momen yang paling ditunggu oleh banyak pelajar di Indonesia. Sebagai salah satu penentu perjalanan banyak pelajar di Indonesia, momen UTBK menjadi momen yang memiliki banyak kisah di baliknya. 



Sebelumnya, kami mau mengucapkan selamat buat kalian semua yang juga berhasil menaklukkan pertarungan sengit UTBK dan tetap semangat belajar buat sobat yang akan menghadapi UTBK 2021.


Nah, setelah baca judul artikel ini, kalian tau kan pembahasannya tentang apa. :)
But, Artikel berikut bukan pengalaman pribadi Admin ya, melainkan tulisan menarik yang saya temukan di Internet ketika sedang mencari cerita cerita absurd.

Sebelum lanjut ke cerita utamanya, siapkan dulu cemilanmu karena ini akan cukup panjang, tapi dijamin kok gak membosankan. 
Kalian pasti udah gak sabar untuk bacain ceritanya, kan? Yuk, langsung aja kita simak Pengalaman Lolos UTBK 2019 berikut ini:
Aku angkatan pertama UTBK dan juga angkatan pertama di SMAku. Ya, sekolahku masih baru dan tentunya sekolah berharap kami bisa lulus di PTN favorit agar kedepannya adik-adik punya peluang yang besar di SNMPTN. Oiya, sekolahku sistemnya boarding (pesantren).


Kelas 10 dan kelas 11 aku jalani seperti biasanya, namun lebih sibuk diluar akademik. Aku menjabat sebagai bagian dokumentasi di OSIS, sehingga sesekali lumayan sibuk untuk ngedit video.


Sebagai angkatan pertama, tentu peluang kami sangat amat kecil untuk bisa keterima di SNMPTN, dan aku udah menyadari itu sejak kelas 11. Mulai semester 2 kelas 11, aku mulai mencoba untuk ngambis pelajaran saintek dan agak mengabaikan nilai rapor.


Dikarenakan kesibukan selama menjabat di OSIS dan sesekali mengikuti lomba, aku lumayan banyak ketinggalan pelajaran. Beruntunglah ada salah satu temanku mengenalkanku pada Zenius.

siapa pendiri zenius

(Founder Zenius, Sabda PS dan Wisnu OPS)


Jadi waktu itu ceritanya lagi pindahan kamar, kami tiap semester ada program pindah kamar. Waktu itu belum banyak siswa yang datang, sehingga aku dan Alif baru bisa memindahkan sedikit barang. Ditengah suasana kamar yang seperti kapal pecah, Alif asik belajar dengan laptopnya. Anehnya, terdengar suara "Lo, gue" dari kejauhan, padahal jelas di layar monitornya tertulis sin cos tan. Disitulah saya mengenal Zenius.net.


Beberapa hari kemudian, saya iseng nontonin zenius via youtube. Selesai nonton satu video, "Oh meen, kenapa baru tau sekarang!". Suer, asik banget belajar pake zenius, dan mungkin baru saat itu saya merasa kecanduan dengan yang namanya belajar. Berbekal tabungan yang saya punya, saya langsung beli voucher 9 bulan (waktu itu masih berbayar).


Zenius benar-benar merubah keseharian saya. Yang dulunya saya banyak menghabiskan waktu di youtube ketika jam kosong, waktu itu jadi belajar terus. Ketika malam minggu teman-teman nobar di aula, saya asik berkhalwat (berduaan) dengan laptop di ruang kelas. Ketika teman-teman asik upload instastory liburannya saat liburan semester, saya pun masih sibuk dengerin petuah bang Sabda (tutor mtk) dan bang Wisnu (tutor fisika).

belajar dengan zenius

(Penampakan belajar di Zenius.net)


Sampailah kami menjadi siswa kelas 12. Sekolah dan wali murid sangat mendukung kami untuk bisa berkuliah. Hal ini dibuktikan dengan kerjasama sekolah dengan salah satu lembaga bimbel yang sangat terkenal dengan slogan "Belajar sesuai cara kerja otak". Jadi hari Senin-Jumat kami belajar formal, Sabtu-Minggu kami bimbel.


Bulan pertama saya sangat menikmati prosesnya, karena tutor bimbel mencatat poin-poin penting dengan sangat rapi ketika menjelaskan. Lama kelamaan, saya mulai jenuh dengan tuntutan dari pihak bimbel. Buat kalian yang anak Inten, pasti ga asing lagi dengan yang namanya "Progress".


Tiap bulan, pihak bimbel mengadakan tryout. Setelah tryout, kami diminta untuk menempel lembar soal tryout ke buku dan menulis jawaban serta pembahasannya, inilah yang disebut dengan progress. Saya pribadi sangat tidak suka dengan sistem ini, karena saya pikir lebih baik dikasih aja sini penjelasannya langsung daripada harus cari jawaban sendiri, biar nanti kami yang memahami. Tapi di cabang Inten manapun sistemnya sudah seperti ini, saya sokap coba mau ngatur-atur 😅. Tetap saja, mending saya gunain waktu buat bantai habis buku Wangsit daripada buat ngerjain progress.


Saya mulai protes ke pihak sekolah dan memohon untuk keluar dari bimbel. Saya ingin kembali menggunakan zenius yang jelas-jelas lebih cocok dengan saya. Namun dikarenakan sekolah khawatir dengan keputusan saya yang saat itu masih remaja, sekolah tidak memberikan izin dan tetap meminta saya untuk mengikuti bimbel.


Sejak saat itu saya mulai jadi anak bandel dan lama-lama jadi stress sendiri. Saya waktu itu ga punya pilihan lain selain mengikuti bimbel. Belajar di asrama ga mungkin karena dikunci dan selalu diperiksa agar tidak ada yang di asrama ketika jam efektif. Belajar di gedung sekolah pun ga mungkin, karena semua ruangan dipakai.


Waktu itu saya memutuskan untuk kabur ke hutan belakang asrama tiap hari Sabtu. Selesai sholat subuh di masjid, saya pura-pura ke tempat wudhu dan bergegas ke asrama untuk kabur ke hutan sebelum teman-teman selesai dzikir. Disana ada gubuk kecil yang dapat saya duduki terasnya, lumayan deh bisa digunakan untuk sekedar membaca.


Saya mulai lelah dengan semua itu, ga nyaman banget belajar di ruangan terbuka. Pada suatu malam, saya menanyakan kunci gudang kepada pembina asrama untuk mengambil barang. Sebenernya bukan gudang, tapi ruangan listrik yang difungsikan sebagai gudang. Saat saya bertanya, pembina asrama bilang ga tau. Namun saya penasaran dengan banyaknya kunci yang bergelantungan di kamar beliau. Okedeh, diam-diam saya cobain satu per satu sampai akhirnya saya menemukan kunci gudang. Sans ae saya ambil, toh pak pembina tadi ngakunya ngga tau kan.


Seneng banget waktu itu, akhirnya saya punya ruang persembunyian untuk belajar. Tiap hari Jumat, saya tidak tidur dan menunggu Sabtu fajar untuk melakukan aksi saya sembunyi di gudang. Jam 4 menjelang tahajjud, saya bergegas ke kantin untuk mengambil sarapan. Saya membawa sarapan dan keperluan belajar ke gudang, menunggu matahari terbit didalam sana dan kemudian belajar dengan tenang bersama Zenius. Oiya, saya juga pake buku Wangsit Platinum dan itu cocok banget buat saya.


persiapan utbk

(Ruangan listrik yang saya jadikan tempat belajar)

Awal tahun 2019, ayah saya mengalami kecelakaan kerja. Kejadian ini merupakan pukulan berat untuk saya, karena saat itu keadaan keuangan semakin memburuk, sedangkan tahun itu juga saya ingin menggapai bangku perkuliahan yang sejak lama saya impikan. Oiya, sejak kelas 10 saya berharap lolos di STEI ITB haha.


Saya tetap kekeuh belajar dengan cara saya sendiri, namun agak berbeda ketika di semester 2 kelas 12. Yang sebelumnya saya mencatat poin-poin penting di buku, sejak semester 2 saya mengetik penjelasannya dan screenshot videonya, kemudian saya rapikan di microsoft word. Hal ini saya lakukan demi menghemat waktu dan juga saya sendiri waktu itu entah kenapa jadi pelupa, sehingga sak-sak penjelasan detailnya pun saya ketik.

modul belajar utbk

(Template catatan belajar saya)


Nanti semua catatan itu saya print bolak balik, kemudian saya pelajari di kamar ketika menjelang tidur. Catatan itu aib banget sih, karena gaya tulisannya betul-betul kocak. Mau tak mau cara ini harus saya lakukan, karena saya bakal bingung sendiri kalo kalimatnya terlalu baku. Sesekali teman saya menganggap saya pelit karena ga mau ngeliatin catatan tersebut. Sebenernya saya bukan pelit, tapi malu woy.


Udah pada tau lah yaa seberapa sibuk kita di semester 2 kelas 12. Apalagi sekolah saya basisnya Madrasah, jadi saya juga harus mempersiapkan diri untuk UAMBN. Meskipun sekolah saya masih baru, Alhamdulillah waktu itu sudah terakreditasi A. Melihat hasil akreditasi ini, banyak dari teman-teman saya yang mulai berharap pada SNMPTN. Saya mah tetep selow aja persiapan SBMPTN, karena udah yakin ga bakal ada yang keterima.


Ketika pengumuman seleksi 40%, Alhamdulillah saya tidak terpilih. Yak, saya senang, karena saya tidak perlu deg-degan ketika pengumuman SNMPTN nanti. Daripada ditolak ketika pengumuman SNMPTN, mending ditolak dari awal ketika seleksi 40% kuota SNMPTN. Benar saja, ketika pengumuman SNMPTN, tidak ada satupun dari teman-teman saya yang lolos.


UN telah usai, sebentar lagi pemilu dan sebentar lagi perpisahan. Sehari sebelum pemilu, itulah hari terakhir saya berada di sekolah. Saya izin kepada pihak sekolah untuk tidak mengikuti perpisahan karena satu dan lain hal. Banyak banget sih alasannya, yang bisa saya ceritakan disini adalah karena saya tidak mampu untuk membayar biaya perpisahan yang lumayan mahal, sedangkan waktu itu ayah saya tidak bisa bekerja karena belum sembuh.


Sebagai angkatan pertama, ketika mendengar saya tidak ikut acara perpisahan, tak sedikit dari teman-teman saya yang kecewa berat. Yaa gimana guys, mau bayar pake apa kalo mau maksain ikut perpisahan. Tanpa bermaksud untuk egois, saya berlepas diri dari segala kesibukan persiapan perpisahan dan fokus untuk mempersiapkan UTBK. Kalau SBMPTN ini hasilnya memuaskan, toh akan membanggakan sekolah juga kan?


Jadi dulu UTBK itu dilaksanakan tiap hari Sabtu dan Minggu. Entah kenapa di daerah saya Batam ketika pendaftaran hanya terbuka jadwal untuk tanggal-tanggal awal. Sedangkan pikir saya waktu itu, saya harus memilih tanggal yang agak akhir agar persiapan semakin matang dan agar dapet sedikit spoileran hehe. Daerah yang paling dekat dengan Batam dan bisa memilih semua tanggal UTBK waktu itu adalah daerah Riau dan Sumatera Barat.


jadwal utbk sbmptn

(Jadwal UTBK 2019)

Untungnya kampung ayah saya ada di Padang Pariaman (Sumatera Barat), jadi seminggu setelah pemilu saya dan ayah memutuskan untuk kesana. Saya disana mau belajar dengan fokus (karena belajar di rumah ga bisa fokus), sedangkan ayah saya kesana untuk mengobati lukanya yang belum pulih. Setelah lebaran, ayah saya pulang ke Batam dan saya tetap tinggal dengan keluarga uncu (adik ayah) disana.


Saya mengikuti UTBK tanggal 4 Mei di SMAN 9 Padang dan 25 Mei di Universitas Andalas. Nilai UTBK gelombang pertama Alhamdulillah lumayan tinggi, sedangkan nilai UTBK yang kedua malah anjlok karena waktu itu saya juga sudah diterima di Telkom University. Kabar baik ini membuat saya mulai males-malesan belajar UTBK, karena kebetulan prodi saya di Telyu sudah cocok. Sayangnya, saya tidak mendapatkan beasiswa secara penuh sehingga saja tidak jadi mengambil Telyu. Punteeeen 🙏.


hasil nilai utbk

(Nilai UTBK gelombang pertama)


Kebetulan paman ada yang tinggal di Bekasi, setelah lebaran saya pun ikutan ke Bekasi bersama paman yang waktu itu juga pulang kampung ke Padang Pariaman. Disana saya lanjut untuk persiapan ujian mandiri, waktu itu saya daftar UTUL. Jadi gitu deh alesan ke Bekasi, biar bisa ikutan UTUL di Jakarta.


Dikarenakan saya juga sudah lama tidak berjumpa dengan nenek (ibunya ibu saya), saya sekalian mampir ke kampung Ibu di Kuningan (Jawa Barat). Pulang dari Kuningan, saya mampir dulu ke rumah teman saya di Lembang. Waktu itu udah tanggal 8 Juli, yang mana besoknya adalah pengumuman SBMPTN. Keesokan harinya, saya pamitan dan lanjut ke rumah Paman saya di Bandung untuk persiapan masuk Polban juga. Sebelum kesana, saya mau buka pengumuman dulu.


Waktu itu entah kenapa saya kepikiran untuk ngebuka pengumuman di Masjid, tepatnya Masjid Al-Lathiif (masjidnya anak-anak pemuda hijrah). Pikir saya waktu itu, kalo saya lulus saya bisa langsung sujud syukur, kalo ga lulus saya langsung bisa merenung juga. Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB, tangan saya mulai gemeteran. HP saya pun ikutan gemeteran, karena waktu itu banyak WA masuk dari temen-temen yang nanyain pengumuman SBMPTN.

pengumuman lulus utbk

Yak, saya mengurungkan mimpi saya untuk ke STEI ITB. Sebagai orang campuran minang x sunda, saya pengen banget kuliah di tanah sunda. Namun setelah perjalanan panjang yang saya lalui, setelah mendengar berbagai masukan dari keluarga ayah saya, saya memutuskan untuk masuk ke Universitas Brawijaya.


Biaya untuk hidup dan kuliah di Bandung agak mahal, tentu saya tidak mau menyusahkan orang tua dan keluarga saya dengan memaksakan diri berkuliah di Bandung. Saya juga lama kelamaan mulai sadar bahwa sebenernya saya bukan anak yang pinter, nekat masuk ITB nanti malah kena DO pula haha. Yaa karena nilai UTBK saya ga tinggi-tinggi banget juga sih.


Mengenai UTUL, saya relakan saja uang pendaftaran 525.000 itu :'). Belum sepenuhnya rela sih, masih suka terbayang-bayang sampe sekarang haha. Iyap, saya ga ikutan UTUL karena sudah lolos SBMPTN. Selain karena saya sudah yakin dengan pilihan saya di UB, saya juga ga mau menyia-nyiakan UB yang sudah mengeliminasi peserta lain untuk menyisipkan nama saya.


Jadi begitulah perjalanan saya dalam menggapai bangku perkuliahan di PTN Favorit. Saya tetap sangat bersyukur bisa berkuliah di UB, karena kapasitas saya memang disana. Malah disana saya juga lumayan keteteran sama kuliah, untung deh saya ga jadi ke ITB. Disana pun saya betah parah, karena suasananya ga jauh beda dengan Bandung. Bedanya, di Malang biaya hidup relatif lebih murah.


Kepada pihak sekolah, saya minta maaf telah memilih jalan saya sendiri dan diam-diam banyak melanggar peraturan sekolah. Pikir saya waktu itu, gapapa saya melanggar peraturan sekolah asalkan ga merugikan orang lain dan ga melanggar peraturan agama. Kepada pihak bimbel, sebenernya ngajarnya enak banget. Tapi saya sendiri kurang bisa belajar duduk di kelas gitu, lebih nyaman pake laptop. Kalo mau nyatat tinggal pause, kalo ga ngerti tinggal replay, dan ga mungkin hal itu saya lakukan di bimbel. Kepada semua saudara dan teman-teman yang sudah membantu, semoga saya bisa menyelesaikan perkuliahan ini dengan baik dan bisa membalas semua jasa kalian.


Buat adik-adik yang masih berjuang, masuk kampus favorit bukanlah suatu keharusan dan masuk kampus yang biasa-biasa saja juga bukanlah suatu aib. Memang, ada banyak hal yang akan kita dapatkan di kampus favorit seperti fasilitas yang mungkin lebih baik, lingkungan yang lebih baik, relasi yang lebih luas, dll. Namun, tetaplah pertimbangkan berbagai aspek, jangan hanya memikirkan diri sendiri. Dan selalu ingat bahwa kampus manapun tidak bisa menjamin 100% akan kesuksesanmu nantinya.


---akhirnya, bagi sobat idnpedia yang ingin menelusuri sumber Artikel ini bisa ke link ini----

Untuk menunjang persiapan UTBK SBMPTN sobat, kami sudah siapkan nih artikel terkait seputar UTBK, kalian bisa baca ebook Wangsit 2020 atau bahkan Download Ebook SBMPTN UTBK 2021 Lengkap. Semoga bermanfaat, Cheers.

Posting Komentar untuk " Pengalaman Lulus UTBK SBMPTN"